Upah Tenaga Kerja Rendah Menjadikan Buruh Malas ?

Posted on
upah tenaga kerja, hak tenaga kerja, demo buruh, buruh pabrik, upah buruh, kawasan ekonomi khusus, perdagangan bebas asean
Upah Tenaga Kerja Rendah Menjadikan Buruh Malas ?

Kunci Bisnis – Tahukah Anda bahwa satu unit pabrik Apple iphone di China membutuhkan kawasan ratusan hingga ribuan hektar dengan buruh sedikitnya 200.000 orang. Di China terdapat 23 pabrik Apple dengan dukungan supply chain (rantai suplai) yang terstuktur dengan jumlah total karyawan lebih dari 6 juta orang. Ini belum termasuk pabrik Samsung dan perusahaan yang lain. Industri tersebut juga menciptakan puluhan ribu new comer enterprenuer sebagai supply chain dan service chain.

Kalau sebelum tahun 2010 upah buruh masih USD 2 per jam, tapi sekarang sudah merangkak USD 5 per jam. Tapi apakah Apple dan Samsung hengkang ? tidak. Karena semakin kesini semakin tinggi tingkat produktifitas pekerja China. Para buruh pabrik di China sadar bahwa mereka tidak bisa menuntut upah besar kepada pemilik pabrik namun mereka bekerja keras dan terus meningkatkan produktifitas agar mereka bisa di hormati sebagai bagian dari proses produksi dengan imbalan upah yang lebih baik. Dan hukum bisnis sellau sama: perusahaan tidak membayar orang tapi membayar pekerjaan yang merka lakukan. Kalau memang produktifitas tinggi tentu akan tinggi pula bayaran yang mereka terima. Jadi demo buruh itu merupakan pekerjaan terbelakang secara spiritual.

Hal yang tabu dan memalukan apabila dibahas oleh orang China adalah mengeluhkan keadaan pribadinya berkaitan dengan keluarga dan pekerjaan. Mengapa ? karena semakin dia mengeluh semakin nampak kebodohannya. Karena semua orang China sadar bahwa pengeluh itu tak lebih adalah kemalasan dan ingin hidup dibayar seperti budak, bukan atas dasar mutual simbiosis antara pekerja dan majikan. Begitu juga keluarga, istri atau suami adalah pilihan orang itu sendiri. Kalau dia mengeluh atas pilihannya itu artinya dia secara spiritual memang tidak cerdas, atau mendekati kelainan jiwa. Seburuk apapun perlakuan pemerintah, mereka tetap menyalahkan diri sendiri kalau tidak bisa menghidupi dirinya sendiri. Bahwa ini pilihan hidup mereka dan mereka harus menjalani hidup ini walau keadaan tidak ramah dan menuntut untuk survive. Pemahaman seperti inilah yang membuat pekerja China sangat menghargai pekerjaannya. Passion mereka berkerja adalah kehormatan dan jauh lebih baik bekerja keras sekarang daripada besok berusaha keras mencari kerja. Artinya mereka mensyukuri yang ada dan terus meningkatkan martabatnya lewat bekerja keras agar orang merasakan manfaat atas kehadirannya.

Tapi sikap mental pekerja China juga berkaitan langsung dengan visi pengusaha China yang hanya menghargai orang dari produktifitas dan mereka selalu menjaga komitmen itu. Mengapa ? karena mereka memang tumbuh dari semangat berkompetisi dan itu memerlukan loyalitas dan produktifitas kerja dari karyawan. Di Indonesia umumnya pengusaha tumbuh dari rente akibat akses kepada penguasa. Akibatnya rasa hormat kepada karyawan rendah sekali. Mereka tidak merasa rugi melayani pejabat dengan uang sama dengan 100 kali upah tenaga kerjanya dalam sebulan. Dan bahkan porsi upah tenaga kerja jauh lebih kecil daripada biaya melayani pejabat. Di era Jokowi pengusaha berbasis rente ini dijerat dengan regulasi yang ketat sehingga satu demi satu usaha rente gulung tikar menjadi haters pemerintah namun pada waktu bersamaan muncul pengusaha profesional dengan standar moral yang tinggi. Ini sedang berproses. Sebagaimana saya selama era Jokowi berhasil bersama mitra saya membangun pabrik mug dan alas sepatu wanita untuk pasar ekspor. Sekarang sedang proses membangun pusat stokis dan logistik untuk raw material. Banyak juga yang akan memindahkan pabriknya ke Kawasan Ekonomi Khusus atau kawasan berikat dengan alasan Perdagangan Bebas Asean (ME ASEAN) dan CAFTA.

Tapi kembali kepertanyaan mendasar, apakah buruh pabrik di Indoensia seburuk yang dibayangkan orang selama ini yaitu malas. Tidak. Selagi hak tenaga kerja dibayar pantas dengan standar kerja yang tinggi mereka akan cepat belajar dan berubah. Di dunia dan dimana saja orang akan bangkit passionnya selagi dimanusiakan dan itu dengan upah tenaga kerja yang layak.

Erizeli Bandaro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *